Living The Instagram Life

Kalau ditanya dalam dunia per-Youtube-an gue pengen jadi siapa, mungkin gue akan jawab gue pengen jadi Niomi Smart.

Nih, orangnya:

bc28e5b83a3b01a565e19d0f45f021a0Niomi adalah lifestyle Youtuber dari Inggris yang kontennya fokus ke fitness dan health. Buat yang suka nontonin Zoella pasti tau deh, Niomi. Awal-awal gue tahu dia pun sebenernya dari channel Zoella, tapi entah kenapa makin kesini gue malah makin shayang-nya sama dia dan bener-bener jadi se-ngefans itu. Bahkan waktu dia putus sama pacarnya yang sesama Youtuber aja gue ikutan galau, terus maraton nontonin video-video lama mereka. Alay banget lah pokoknya.

Katanya, kita bisa suka sama sosok influencer itu karena mereka relatable. Mereka bukan selebriti atau supermodel, cuma “orang biasa” yang punya Youtube channel dan bikin konten. Sebenernya gue rada kurang paham sih, di bagian mana gue relate ama Niomi, hahaFirst of all, she’s your typical sweet blonde girl. Cara ngomongnya lembut banget, suaranya juga enak didenger, British accent-nya bikin tambah manis pula. Kalaupun ada orang yang kesel, mungkin keselnya karena nggak ada hal yang bisa dikeselin dari Niomi (ngerti kan?) karena dari apa yang gue tonton di layar laptop, she’s a very lovely person.

Alasan lain yang bikin gue nganggep Niomi sangatlah legit sebagai influencer adalah cara dia memperkenalkan passion vegan lifestyle-nya di channel dia. Again, sangat nggak relate sama gue yang kemaren buka puasa pake risol smokbif, tapi gue seneng banget nonton video What I Eat In A Day dia. Di video itu, Niomi ngasih lihat apa aja yang dia makan hari itu, sebagian besar dia masak sendiri, mulai dari makanan berat sampe cemilan-cemilannya.

Gue sih jujur nggak pernah ngerti sama makanannya, karena menu dia tuh ya entah rebusan paprika, ubi, quinoa, dimakan pake sup tomat, atau dia bikin olahan “daging burger” sendiri pake zucchini, kacang-kacangan, ama sayur. Semua makanan dia plant-based dan super sehat. Sampai sekarang, meskipun di channel dia juga udah mulai nambah video makeup tutorial, vlog, liputan beauty event di Paris atau apapun yang ngasih lihat hal-hal berbau luxury gitu, tapi video dia yang paling gue suka adalah yang ngeliatin dia lagi masak di apartemennya.

Terus ceritanya gue ikutan terharu waktu akhirnya dia nerbitin buku resep masak yang dikasih judul Eat Smart, selain karena bangga atas achievement-nya, tapi “Eat Smart” adalah judul yang diusulin sama salah satu subscriber di comment video dia dan gue inget waktu itu salah satu dari ribuan orang yang nge-like comment itu sampe jadi comment paling atas 😀 (Sungguh kontribusi yang sangat besar).

niomi-smartPhoto

Duluuuu, banget gue pernah baca suatu quote, kalo nggak salah dari Twitter-nya Kamga, intinya dia ngomong gini:

“Nggak usah repot-repot mau menginspirasi orang. Apapun itu, selama dilakuinnya pake hati, pasti bisa menginspirasi.”

Mungkin karena Niomi ngejalanin veganism-nya dengan sungguh-sungguh, nggak sekedar ngikutin tren, selalu keliatan happy pas lagi masak makanan dia yang gue nggak ngerti, dan konsisten dengan lifestyle-nya, buat gue jadi kelihatan tulus banget. Gue yang nontonnya pun ikut seneng dan jadi kepengen tahu, terlepas dari ini manusia nggak ada relate-relate-nya acan ama hidup gue.

__

Suatu hari, gue ngeliat ada video 24 Hours with Niomi Smart di channel-nya majalah Glamour UK. Tanpa basa-basi, langsung gue klik dong. Buat yang males nonton, intinya di video berdurasi tujuh menitan itu, Niomi ngasih lihat kesehariannya, mulai dari bangun pagi, meditasi dikit, bikin sarapan, olahraga, pergi ke kantor Gleam Futures (talent agency yang nge-handle dia), baca fan letters, buka PR package, dan balik pulang untuk milih baju yang akan dipake ke event. Sounds too good to be true? You bet!

Gue pun scroll ke bawah untuk baca comments. Daan, gue menemukan beberapa comment di bawah ini:

“She’s perfect 🙂 But is it relatable? To me this is just so far from what a hobo I am myself that it fails to be inspirational 😀 However even though I fully acknowledge my own imperfection I am okay really. Good luck to this girl.”

“I do watch her vlogs etc and she’s so sweet, but she appears so picture perfect and I just feel like she’s so unrelatable, she’s the definition of an Instagram life.”

“Geez, it’s like the world would come crashing down if this chick ate a burger with fries or slept in until 11”

“That’s what’s wrong with Britain someone just has to make videos of their boring life and suddenly there a celebrity. Every where else in the world nobody would care less but in Britain youtubers are worshipped like a God.”

Heum.

Banyak kata “relatable” di situ. Gue jadi mikir, apakah relatable adalah alasan nomor satu untuk orang suka sama social media influencer? Begitu mereka ngerasa orang itu udah nggak relatable lagi, berarti mereka udah nggak valid lagi?

Sebagai permulaan, definisi relatable tiap-tiap orang aja udah beda-beda. Jadi begitu gue ngeliat ada komentar yang bilang kalo seseorang nggak relatable, I kiiiiinda get a little defensive. Ya mungkin nggak relatable buat elo, tapi bukan berarti info yang dia kasih nggak berguna buat orang lain. Sama aja kayak annoyed-nya gue kalo video-video Skincare 101 atau makeup review di Female Daily nyebut produk yang harganya mahal dikit, banyak yang langsung protes dan bilang kalo harganya nggak cocok sama kantong mahasiswa, mahal-mahal semua, dll. Gue juga pernah jadi mahasiswa, gue juga pernah mupeng pengen beli ini itu tapi duit terbatas, tapi gue nggak pernah protes kalau ada orang bagi-bagi info gratis di Internet dan gue merasa infonya nggak kepake sama gue. Kan orang susah-susah bikin konten nggak cuma buat ditonton atau dibaca gue doang?

Wah, jadi nyolot kan.

Contoh lain gini. Ada juga Youtuber lain yang dulu jadi favorit gue, namanya Ingrid Nielsen. Gue udah subscribe dia dari jaman nama channel-nya masih Miss Glamorrazzi. Waktu masih umur 20-an, Ingrid sering banget share soal skincare jerawat karena kulitnya cukup acne-prone, yang kemudian berubah waktu umurnya udah 30 tahun. Sekarang, Ingrid udah jarang share soal jerawat (karena emang udah jarang jerawatan lagi) dan produk-produk yang direkomendasiin pun juga jadi lebih mahal, pernah waktu itu dia mention pelembap yang harganya kalau nggak salah 3 jutaan, terus subscriber-nya banyak yang protes.

Menurut gue pribadi sih ya, Youtuber kan juga punya “jenjang karier” ya. Semakin channel mereka berkembang, semakin besar pula income mereka, jangan heran kalau semakin berubah pula lifestyle mereka. Sama aja kayak kita kerja, naik gaji, terus sebagai reward kadang kala kita pengen beli tas atau sepatu yang lebih bagus dari yang biasanya kita pake. Sah-sah aja, kan. Ya emang bete sih kalo dulu kita ngerasa apa yang kita pake sama kayak yang dia pake, terus seiring berjalannya waktu ternyata preferensi dia udah berubah. Paling banter ya kita jadi stop nonton videonya lagi. Kritik sih boleh-boleh aja, tapi bukan berarti kita harus dragging down pengisi konten untuk nggak memperluas isi konten dia. An influencer has to try so many things, after all!

__

Balik lagi ke Niomi, mungkin ramblings gue ini agak bias karena pada dasarnya udah ngefans dan ngerasain influence Niomi yang sedikit banyak mengajak gue untuk mulai hidup sehat. Gue nggak berubah jadi vegan atau sarapan oatmeal setiap hari, tapi belakangan ini gue lagi rajin bikin smoothies karena terinspirasi liat Niomi yang bikin smoothies tiap hari. (Berhubung nggak bisa masak, jadi yang diikutin yang gampang aja)

Faedahnya apa? Beberapa hari yang lalu gue udah sempet gejala pilek, idung mulai meler dan kepala pusing, tapi dikasih smoothies ber-vitamin C dua hari aja ternyata gue nggak jadi sakit! Kalau gue nggak rajin nontonin Niomi dan tergerak untuk nyoba bikin smoothies, mungkin sampe sekarang gue tetep males-malesan aja dan cuek sama kesehatan gue. Hal sesederhana apapun, kalau gue dapet inspirasinya dari orang lain, pasti bakal gue inget terus. Approach gue terhadap semua influencer (and almost everything in the world) yang gue tonton: ambil baiknya, buang yang dianggap jelek, dan adjust ke lifestyle gue sendiri. If upgrading means putting a little more effort in life no matter how small it is, like cutting carb intake or learn about skincare ingredients, I’m totally down for it.

Lagipula ya, kalo selamanya kita cuma mau nonton influencer yang “relatable” dan ngelakuin apa yang kita udah lakuin, nanti hidup mentok di situ-situ doang dong? Kita jadi nggak mau membuka diri untuk nyoba hal baru, padahal kan kita harus upgrade sebagai manusia. Upgrade di sini bisa berarti apa aja, entah itu ngikutin pola hidup yang lebih baik, cara berpakaian yang makin oke, makeup lebih jago, public speaking makin pede, jadi rajin olahraga, dan masih banyak lagi. Bagian yang nggak disuka, misalnya pilihan produk yang terlalu mahal atau rutinitas yang terlalu ribet, ya nggak usah diikutin. Gue mungkin belom bisa ngeganti semua buah dan sayur gue jadi yang organik kayak Niomi, tapi mencoba hidup lebih sehat, siapapun juga bisa. Tinggal caranya aja dicocokin sama niat dan kemampuan.

Di satu sisi, gue ngerti sama kemuakan orang-orang sama “Instagram girls” yang kayaknya hidupnya perfect banget seolah nggak punya beban hidup. At some point in my life, gue juga pernah kok jadi orang yang nyinyirin cewek-cewek kayak gitu. Gue pribadi emang ada enjoyment sendiri nontonin hidup orang yang kok kayaknya put-together banget, some life that I probably wish I had. Mungkin rasanya sama kayak dedek-dedek yang nonton FTV gitu kali ya. Tapi terus ya gue mikir lagi, apakah dengan nyinyir dan  melakukan hal-hal yang bertolak belakang ama cewek-cewek ini (misalnya jajan gorengan atau jalan ngangkang) bikin gue jadi orang yang lebih asik gitu? Lebih enak diajak ngobrol? Belom tentu juga.

Apakah karena gue merasa hidup gue lebih “real” daripada hidup mereka yang “picture-perfect” yang cuma gue lihat sekelibat di socmed, lantas gue jadi orang yang lebih genuine dibanding mereka?

I’m sure it’s fun mocking people who live the life that we find ridiculous, especially influencers. Mungkin kita emang nggak punya banyak waktu untuk meditasi atau makan sehat setiap hari, tapi bangga akan kemalasan nggak bikin jadi keren juga. Tinggal kita yang pilih aja, mau jadi baper sama influencer karena merasa nggak relate, atau cukup tonton aja videonya, dengerin advice yang bisa diikutin, and just carry on. Toh kalo emang influence dari mereka ternyata bawa hasil yang baik, kita-kita orang juga yang seneng 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s