The Very Thing That Keeps Us Going

“Feeling sorry for myself is pointless, so I find ways to get energized.”

Beberapa waktu lalu, Alda sempet share di IG story soal buku yang lagi dia baca. Judulnya Grit: The Power of Passion and Perseverance (2016), karya psikolog Angela Duckworth yang sukses jadi best seller The New York Times berminggu-minggu.

Alda bilang buku ini berhasil ngubah pola pandang dia terhadap banyak hal, terutama masalah karir. Gue sendiri tadinya belum terlalu kenal sama konsep grit, yang baru kali ini gue baca topiknya dibahas secara ilmiah dengan bahasa yang santai. Merasa sedang melewati quarter-life crisis dan butuh pencerahan dari ahlinya, akhirnya gue order juga buku ini.

Source

Jadi, apa sih ‘grit’?

Menurut Duckworth, grit adalah sebuah personality trait yang menunjukkan kemauan dan kegigihan seseorang untuk mencapai sebuah target jangka panjang. In her words, grit means “passion and perseverance for long-term goals”.

Salah satu faktor kesuksesan seseorang bukan dari bakat atau bawaan lahir, tapi dari seberapa besar kemauan mereka untuk ngejar target tersebut dan gimana mereka bangkit ketika gagal. Duckworth believes that if people are gritty enough, they can reach a long term goal that will eventually lead them to a productive and satisfying life.

Bagi beberapa orang mungkin topik ini basi banget, tapi buku ini berhasil bikin gue mikir jauh lebih dalem soal apa yang mau gue lakukan dalam hidup (cyeeeh). Gue merasa perlu baca buku ini karena gue pernah ngerasain bangun pagi kayak zombie, berangkat kerja dan mempertanyakan apakah yang gue lakukan itu bikin gue bener-bener happy? Sebenernya apa sih tujuan dari semua ini? Buat apa gue kayak gini? Blablabla? Aksjhfkdjfhsd? Punya setumpuk pertanyaan kayak gitu pas lagi panas-panasan di GO-JEK rasanya gak enak, lho.

And then I realized that what we’re doing now had everything to do with our long-term goal.

Long-term goal ini tentunya porsinya beda-beda tiap orang. The target can be personal, but it should fit into a bigger picture. Something way, way, much bigger than ourselves. 

Sebagai contoh, cita-cita Jonatan Christie mungkin adalah jadi atlit bulutangkis terbaik dan bikin keluarganya bangga. Tapi di luar pencapaian pribadi, Jojo pengen profesi atlit lebih dihargai dan didukung oleh pemerintah. Jojo juga pengen ngompakin rakyat Indonesia lewat olahraga. Jojo juga pengen bonus hadiahnya sebagai peraih medali emas dinikmati oleh masyarakat kurang beruntung. Cara Jojo meraih semua itu? By training hard and constantly improving himself, knowing that his success will not only be impactful for himself but to other people as well.

Setelah beres baca buku ini minggu lalu, gue harus setuju sama Alda, buku ini juga banyak membuka pandangan gue terhadap banyak hal, terutama tentang purpose. Selama gue baca, baik itu di kereta atau di Transjakarta, tiap nemu kalimat yang agak jleb, gue kadang diem dulu, liat ke atas, terus ngegumam sendiri,

“Iya juga yak.”

_________

Di buku ini, Duckworth bilang bahwa nggak mungkin kita akan gigih ngejar sebuah target jangka panjang kalo kita nggak bener-bener peduli tentang target tersebut.

Anggapan yang masuk akal banget menurut gue, meskipun ada aja orang yang merasa salah jurusan waktu kuliah, atau kecemplung di kerjaan yang sebenernya dia nggak enjoy, tapi lulus-lulus aja dengan nilai bagus dan bosnya juga happy-happy aja dengan hasil kerjanya. Gue respect banget sama orang-orang seperti ini, karena kalau gue pribadi, gue akan susah banget berusaha maksimal kalo gue nggak bener-bener suka dengan apa yang gue kerjain.

That’s why we need to talk about passion.

“Interest is one source of passion. Purpose—the intention to contribute to the well-being of others—is another. The mature passions of gritty people depend on both.” (p.143)

Passion, purpose, interest, adalah istilah-istilah yang sering banget muncul saat kita lagi ngomongin sekolah ataupun kerjaan. Bahkan kata “passion” itu sendiri kayaknya udah overused, dengan pengertian yang beda-beda bagi setiap orang.

I learned a long time ago that passion is something that you seek. Lo bisa aja nemuin passion baru setelah bertahun-tahun melakukan sesuatu yang sebenernya nggak lo suka. Atau mungkin lo cuma iseng nyobain sesuatu karena penasaran, eh, malah keterusan jatuh cinta dan ditekunin. Sama kayak jodoh, timing orang dalam nemuin passion-nya juga beda-beda.

Gue jadi inget film yang gue tonton waktu kecil, judulnya Center Stage (2000), tentang penari-penari balet muda di New York dengan struggle-nya masing-masing untuk bisa kepilih gabung di sebuah perusahaan balet terkenal. Di salah satu adegan paling heartbreaking di film itu, salah satu karakternya, Maureen Cummings, ngomong ke ibunya yang keras dan ambisius banget soal karirnya bahwa meskipun Maureen dilihat sebagai penari paling jago di akademi, sebenernya dia nggak pernah happy jadi penari balet:

“That’s what ballet would be. A life of wishing that I found something I loved, instead of something I just happened to do well. Mom, you didn’t have the feet. I don’t have the heart.”

centerstage_showpage_940x100.jpgThat’s Maureen with the denim jacket!

Bertahun-tahun nurutin ambisi ibunya ternyata bikin Maureen stress secara fisik dan mental. She was really, really, unhappy and as a result, she developed an eating disorder. Akhirnya Maureen mutusin untuk cabut dari akademi dan pindah kuliah ke universitas biasa. Sorry for spoiling a movie that came out 18 years ago, but I hope you get the message.

Ngerti banget, nggak semua orang punya privilege kayak Maureen yang bisa dengan gampangnya ninggalin hal yang udah ditekunin bertahun-tahun untuk pindah ke bidang baru. Tapi semua orang punya kemampuan untuk mengidentifikasi hal apa yang mereka  bisa enjoy ngelakuinnya pake hati dan mana yang enggak. Soal apakah passion-nya mau dikejar atau enggak, gue percaya masing-masing orang punya kebutuhan sendiri-sendiri dan terkadang, gak harus ngejar passion juga banyak yang baik-baik aja.

Terus, buat yang sebenernya pengen ngejar passion gimana? Capek tau denger kalimat “follow your passion” mulu. Gak segampang itu.

Mungkin kata “passion” itu sendiri udah lumayan bikin terintimidasi, padahal sebenernya proses menemukan passion juga bisa berangkat dari hal-hal kecil. Coba liat apa yang lagi lo kerjain sekarang. Di kerjaan misalnya, mana yang lebih bikin lo seneng?

Brainstorming dan nentuin tema-tema campaign, atau kerja di lapangan ngurusin detail-detail acara? Lebih suka ngerjain hal yang udah jelas ada template-nya atau project yang ngebolehin banyak improvisasi, asalkan target tercapai? Lebih nyaman ngerjain hal yang butuh sisi kreatif otak kita atau lebih kayak data input dan admin work yang jelas guidelines-nya?

Pertanyaan ini baru bisa terjawab kalau lo bener-bener mengobservasi segala pengalaman lo, mulai dari jaman ekskul dulu, ke jaman kuliah, terus magang, dan kerja. Or any activities that you participated in, actually. Dengan punya beberapa pengalaman, lo jadi lebih mudah mengenali diri lo sendiri dan bertanya,

“Kenapa ya gue tersiksa banget waktu disuruh ngerjain A? Padahal gue lancar banget waktu ngerjain B. Kok si C ini susah banget dikerjain tapi gue penasaran banget pengen bisa nyelesein dengan baik?”

Pertanyaan-pertanyaan itu nggak muncul ketika lo flashback aja, tapi coba diaplikasiin juga ke apapun yang lagi lo kerjain sekarang. Never take your experiences for granted. Use it as your weapon.

Ngomongin soal experience, hampir sebulan lalu gue ikut sesi onboarding atau sosialisasi untuk karyawan baru di kantor gue. Pembawa materi sesi onboarding ini, Mbak Wuri,  melontarkan pertanyaan yang belum pernah kepikiran di otak gue sebelumnya,

“Misalnya ada orang yang menulis bahwa dia punya pengalaman kerja lima tahun. Nah, pengalaman kerja lima tahun itu artinya kamu punya pengalaman belajar yang berbeda-beda setiap tahunnya, apa cuma satu tahun pengalaman yang diulang lima kali?”

Whew. Mikir deh.

Duckworth sendiri bilang kalau proses menemukan passion itu bisa berliku banget. Kalau pun udah nemu, passion juga kadang nggak langsung ngasih kita ide untuk “jadi apa” atau “menciptakan apa”, tapi fungsinya lebih ke kompas, yang artinya:

“…that thing that takes you some time to build, tinker with, and finally get right, and that then guides you on your long and winding road to where, ultimately, you want to be.” (p.60)

Mau cerita dikit soal passion versi gue boleh, ya.

*padahal dari tadi udah nulis panjang*

_________

Pram1.jpgSumber

Dari kecil, gue udah suka nulis. Gue paling seneng kalau jaman SD dulu, setelah libur panjang, pas masuk sekolah kita diminta nulis selama liburan kemarin ngapain aja. Meskipun kayaknya liburan gue nggak seru-seru amat, misalnya cuma weekend-an ke Bandung bareng keluarga atau sepedaan sama anak-anak komplek, tapi gue selalu semangat ngerjain tugasnya.

Its something about the storytelling process that makes me feel like I have something more exciting than myself to offer, which is how I tell stories. Sometimes its not about the stories at all, but its how I deliver them to the world. Seinget gue juga nilai gue selalu biasa-biasa aja, tapi dari dulu gue tau betul kalau nulis bikin gue seneng.

Karena itu, nyokap gue nggak protes pas naik kelas 2 SMA gue milih jurusan IPS dan di kuliah masuk jurusan Sastra Inggris. Saat itu alesan gue nggak muluk-muluk, gue pengen masuk jurusan sastra karena gue juga pengen lebih jago bahasa Inggris dan gue akan banyak belajar baca dan nulis.

Lho, kok kayak anak TK?

Semua orang bisa nulis, tapi nggak semua orang bisa nulis bagus. Gue pengen bisa nulis bagus. Semua orang juga bisa baca, tapi ada orang yang baca berita hoax dari portal berita abal-abal terus dikoar-koarin ke grup keluarga macem sabda Nabi. Terus kalau berita hoax-nya dibantah pake fakta dan data, ngambek. Ya apa gunanya sih jadi orang dewasa yang ngaku bisa baca tapi milah-milih informasi yang diserap aja nggak becus?

Anyway. Hehe.

I also wasn’t planning on being a poet or novelist anytime soon, tapi setelah gue pikir-pikir, kayaknya dua skill itu, membaca dan menulis, bisa membuka banyak jalan buat gue. Plus, di Sastra Inggris juga nggak ada itung-itungan, which made it even more perfect! 💁🏻

063684344f81faa9110ac48a90a5adb8.jpgSetelah hampir empat tahun kuliah, kenyang ditanyain “Masuk Sastra Inggris emang mau jadi apa? Kecemplung ya?” dan pernah dicengin temen gue anak jurusan akuntansi, “Lo kalo UAS ngapain sih? Bikin puisi?”—di sebuah hari yang mendung di bulan Februari, akhirnya gue wisuda juga.

Dua minggu setelah wisuda, gue bergabung sebagai Associate Editor di Female Daily Network. It was probably one of the most important periods of my life, karena gue belajar banyak banget hal, mulai dari menulis sampai ngomong di depan umum, semua berkat “dicemplungin” ke berbagai situasi yang belum pernah gue persiapkan sebelumnya. I stayed there for three years, before finally deciding to move on and start my adventure in another place, outside the world of writing.

Kantor gue setelah FD bergerak di bidang e-commerce, dunia yang sangat baru dan lagi maju-majunya, dengan pekerjaan yang juga sama sekali berbeda.

I knew what I was getting myself into, but it didn’t take long for me to realize that I wasn’t the right person for the job. I worked with a very helpful team who are not only solid but also really good at what they do, but I just couldn’t see myself doing what I was doing there in the long run. And to be honest, I miss writing.

Singkat cerita, ada pintu lain yang terbuka dan gue pun langsung mengambil kesempatannya. Kerjaannya? Nulis lagi dong 😅 Meskipun kali ini gue menulis di bidang UX (user experience), lagi-lagi dunia baru yang sangat berbeda dari apa yang gue kerjakan sebelumnya, tapi pada dasarnya, gue tetep ngelakuin kegiatan yang sangat gue cintai dari kecil.

So, what’s the main takeaway here?

Duckworth nulis di bukunya,

“Most people first become attracted to things they enjoy and only later appreciate how these personal interests might also benefit others.” (p.143)

Masih inget kan soal long-term goal yang skalanya lebih besar daripada sekedar memuaskan diri sendiri? Dari sini, Duckworth mencoba “ngejait” hubungan antara passion dan purpose. Tanpa punya passion, kita mungkin nggak akan tau mau ngapain atau punya target jangka panjang apa ke depannya. Purpose pun baru ada ketika kita udah bener-bener tau kenapa kita bersedia untuk ngejar apapun yang akan kita kejar itu.

Mungkin ada sebagian orang yang bisa survive walaupun nggak punya emotional attachment ke pekerjaannya sehari-hari. Berangkat kantor, kerja, makan siang, kerja lagi, pulang, dan begitu lagi besoknya. Mereka nggak nyari satisfaction on emotional level, karena bisa aja kepuasan batin bukan yang suatu hal yang mereka prioritaskan selama pekerjaannya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Which is totally OK, because whatever floats your boat, right? But that’s not the case for me.

I feel a profound feeling of satisfaction when someone reads my article and said they understand the 10-Step Korean Skincare routine better afterward. I feel uplifted knowing that my choice of words might help someone use an app more efficiently. 

One of my favorite quotes from the book:

“I’m not a brain surgeon, I’m not curing cancer. But in this one small way, I think I’m going to make the world better. I wake up every morning with a sense of purpose.” (p.146) 

_________

Kesimpulannya, baca buku Grit bener-bener memberikan definisi yang lebih rinci soal passion dan purpose itu sendiri. Tujuan dari buku ini kan emang ngebedah rahasia sukses orang-orang dari berbagai background dan ujung-ujungnya kita dibikin mikir, gimana ya cara kita menyesuaikan pola pikir kolektif orang-orang sukses tersebut ke hidup kita?

Gue diingetin juga bahwa passion itu nggak jatuh dari langit atau terlahir bareng kita ke dunia, bagi sebagian orang butuh waktu lama untuk bener-bener bisa jodoh sama passion-nya. Duckworth aja perjalanannya juga cukup berliku, awalnya kuliah di jurusan neurobiologi, terus resign dari posisi tinggi di perusahaan konsultan ternama demi ngajar, di mana pada akhirnya dia menemukan target utamanya.

Ini tulisan di profilnya:

“Angela Duckworth has spent most of her adult life pursuing one top-level goal: using psychological science to help children thrive”

9781785040207.jpg

Wow. Panjang juga tulisan hybrid review-buku-tapi-semi-curhat ini. Of course I can’t put all the lessons I’ve learned by reading Grit in this post, but I hope you get a slight picture about what the book is about. Tanpa baca Grit, kayaknya gue juga nggak akan bisa nulis dan cerita sepanjang ini. Wajib banget baca bukunya, baik buat lo yang masih SMA, kuliah, ataupun udah berkarier. Semoga bisa dapetin insight menarik kayak yang gue dapetin, ya.

Ada yang mau share soal grit, passion, purpose, dan teman-temannya? Silakan lho, ya di comments.

Thanks for reading!

Advertisements

6 thoughts on “The Very Thing That Keeps Us Going

  1. Dear kak Dara,
    Terima kasih atas rekomendasi kakak untuk membaca buku ini. Sejujurnya, aku juga sedang dimasa krisis yang bingung passion dan keinginanku apa. Tiap hari aku tanya sama diri sendiri, apa sih yang aku mau? Aku bakal bisa berbuat apa buat masyarakat? Kuliah yang aku tempuh ini berguna ga sih buat org lain dan buat diriku sendiri?
    Tanpa sadar ternyata aku melupakan apa yang aku senangi, karena mengejar suatu hal yg disukai banyak org tp belum tentu aku suka.
    Sekarang aku mencoba untuk mensortir—mencari tahu hal apa aja yang membuatku senang dan apa aja yang bisa bikin aku produktif. Menulis adalah salah satu jawabannya.
    Terima kasih juga ya kaaak untuk selalu menginspirasi banyak hal, aku menunggu tulisan kakak selanjutnya!

    Liked by 1 person

  2. I’m so glad I read this. Ini ternyata yg bikin hidup rasa rasanya kosong, ga punya tujuan jangka panjang. Tujuan selama ini selalu jangka pendek, bulan depan kesini, beli ini, beli itu. Tapi tapi, ternyata nyari tujuan jangka panjang juga susah yaaa hhh..

    Semoga sama-sama bisa ngadapi quarte life crisis ini yaa, semangat!

    Like

  3. ka dara terimakasih banyak atas tulisan yang bagus dan sangat memotivasi ini, hari-hari aku setelah baca lebih semangat karena aku sekarang tau apa yang aku mau,
    semangat terus buat ka dara semoga ka dara sukses dan sehat selalu ka!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s